Warga Saporkren kembangkan ekowisata dan waspadai nikel
Jakarta (ANTARA) – Warga Kampung Saporkren, Waigeo Selatan, Kabupaten Raja Ampat, Papua Barat Daya, mengembangkan ekowisata berbasis homestay dan pengamatan burung setelah meninggalkan praktik perburuan dan penebangan liar, sekaligus mewaspadai potensi dampak aktivitas tambang nikel terhadap lingkungan dan sektor pariwisata.
Melalui siaran pers yang diterima di Jakarta, Selasa (24/2), pemilik Homestay Warimpurem, Enggelina Dimara atau Mama Engge, dalam Pertemuan Mitra Koperasi Peningkatan Resiliensi Masyarakat Lokal melalui Pengembangan Ekonomi Berkelanjutan yang digelar Yayasan EcoNusa, sebelum mendirikan homestay pada 2010, dia berburu burung untuk dijual guna memenuhi kebutuhan hidup. Setelah mendapat pendampingan konservasi, dia berhenti berburu dan beralih mengelola homestay.
Pengamatan burung (birdwatching) cenderawasih merupakan salah satu atraksi unggulan kegiatan ekowisata di Kampung Saporkren. Jika ada tamu yang ingin melakukan pengamatan burung, dia biasanya menghubungi warga lain yang menjadi pemandu.
Di Saporkren, wisatawan dapat menyaksikan cenderawasih merah (Paradisaea rubra) dan cenderawasih wilson (Cicinnurus respublica), serta sedikitnya 102 jenis burung lain seperti julang papua, mambruk victoria, nuri, kakatua putih, dan kakatua raja. Satwa endemik lain seperti kuskus Waigeo juga masih ditemukan di hutan sekitar kampung.
Perubahan serupa dialami Magareta Morin atau Mama Morin yang mendirikan Homestay Yenkankanes pada 2013. Sebelum membuka penginapan, suami Mama Morin adalah tukang senso, penebang kayu menggunakan gergaji mesin untuk mengambil kayu dari hutan.
Menurut dia, sejak mengelola homestay, aktivitas penebangan dihentikan dan keluarganya beralih mendukung pariwisata berbasis alam. Usaha homestay juga menggerakkan ekonomi warga melalui pembelian ikan dari nelayan dan sayuran dari kebun masyarakat.
Data Badan Pusat Statistik Kabupaten Raja Ampat mencatat kunjungan wisatawan pada 2025 mencapai 42.150 kunjungan, meningkat dari 32.147 kunjungan pada 2024, dengan sekitar 87 persen merupakan wisatawan mancanegara.
Terkait pertambangan, dari lima konsesi tambang nikel yang sempat beroperasi di Raja Ampat, per 2025 tersisa satu perusahaan yang aktif, yakni PT Gag Nikel di Pulau Gag dengan luas konsesi sekitar 13.136 hektare. Empat izin lainnya telah dicabut pemerintah karena pertimbangan administratif dan dampak lingkungan.
”Ketika tambang ada, laut hancur. Kalau saya, mungkin besok sudah mati. Tapi anak cucu kita nanti bagaimana?” kata Mama Engge.
Dia menilai aktivitas pertambangan berisiko menimbulkan sedimentasi yang menyebabkan kekeruhan laut, merusak terumbu karang, serta mengganggu populasi ikan yang menjadi sumber penghidupan nelayan dan daya tarik wisata.
